Powered by Blogger.

Pages

  • Home
facebook twitter instagram

Widya's Babble

Self Reminder. Bukan berarti sudah baik.

Jujur aja ini mah ya. Tulisan ini lahir gara-gara bahas gimana kalo pacar mantan ternyata lebih dibandingkan kita. Lebihnya variatif ya. Lebih cantik/ganteng, lebih kaya, lebih populer, lebih besar ... badannya, atau apa pun yang serba lebih. 

Ada yang pernah atau sedang mengalami hal itu barangkali?

Apa sih rasanya? Sedih? Biasa aja?

Terus kita harus gimana? Oplas? Kerja keras biar dapat lebih banyak uang? Suntik silikon? *lho? Dan segala macam cara supaya bisa ‘sepadan’ sama pacar mantan kita?

Kenapa? Malu? Sama siapa? Sama temen-temen yang nyangka kita kalah saing?

Umpamanya gini sih. Ada masanya ketika NuL!5 p@K3 c@R4 G1n! Itu gaul banget. Dan ketika masanya habis, alay disematkan pada pelakunya. Kalo beberapa waktu lalu Camera360 jadi default kamera sejuta umat (saya instal juga sih, hehe. Langsung uninstal di hari yang sama. Haha.), sekarang muncul tagline “Muka itu dirawat, bukan diedit”.

Jadi, semua itu tentang persepsi sih. Orang yang terbiasa mengikuti tren (mulai dari baju, makanan atau gaya hidup biar dipandang kemasa-kinian) biasanya peduli dengan apa yang orang lain pakai/miliki, tanpa mempertimbangkan apa hal itu memang pantas/sesuai dengan kita. Sedangkan orang yang lebih cuek, tidak peduli dengan apa yang orang lain bilang, yang penting dirinya sendiri merasa nyaman. Saran sih, dalam beberapa situasi lebih baik untuk menjadi orang kedua. 

Why??

Seperti halnya sebuah kota wisata yang akan memiliki daya tariknya masing-masing. Hmm, misalnya Bandung dan Jogjakarta. Mereka tetap memiliki pengunjungnya masing-masing dan tidak menjadikan yang lain sebagai saingan. Karena setiap orang yang berkunjung ke kota tersebut akan memiliki ekspektasi yang berbeda tentang liburan yang akan dia jalani. Orang yang akan mengunjungi Bandung mungkin memiliki ketertarikan pada wisata belanja dan kuliner. Sedangkan Jogja menjanjikan kekentalan wisata budaya dan sisi tradisional khas Jawa.

Setiap orang bukan lahir untuk dibandingkan, namun untuk mewarnai kebhinekaan. Wewww, jadi berat. Hahaha. Intinya ini bukan tentang siapa yang lebih istimewa dibandingkan siapa. Keistimewaan itu sama halnya seperti selera, relatif. Tidak perlu selalu mengikuti apa yang sudah jadi ‘populer’ atau bahkan berusaha jadi orang lain.
Seperti halnya elektron yang mengalami eksitasi, relaksasi dengan melibatkan pertukaran energi, kamu pun begitu. Tapi tetap ingat untuk kembali pada ground state, kestabilan. *apa sih?

Adaptasi itu perlu, bahkan harus. Tapi bukan untuk menjadi sama. Ambil yang sesuai untuk lebih memunculkan sisi istimewa dalam diri. 

Tambahannya buat yang galau karena pacar mantan. Yakin mau instal lagi Camera360? Eh salah. Tanya dulu deh sama diri sendiri. Yakin mau kalo diajak balikan? Yakin mau makan lagi makanan yang udah dilepehin? Terus ngapain musingin pacarnyaaa? Hidup udah ribet ngapain dipake mikirin begituan.

Everybody deserves for the best

Kalau dia mendapat yang (menurut kamu) lebih, berarti kamu juga akan. Tinggal tunggu yang sesuai. Sambil nunggu, pantaskan diri dulu.

*** Selamat Mengistimewakan Diri***

Share
Tweet
Pin
Share
No comments
Newer Posts
Older Posts

About me

Widya P Suharman

Melankolis-Plegmatis
Ibu dari satu anak kandung dan Ibu dari puluhan siswa

Popular Posts

Blog Archive

  • ►  2022 (1)
    • ►  September 2022 (1)
  • ►  2019 (10)
    • ►  May 2019 (1)
    • ►  March 2019 (1)
    • ►  February 2019 (6)
    • ►  January 2019 (2)
  • ►  2018 (16)
    • ►  August 2018 (1)
    • ►  July 2018 (2)
    • ►  June 2018 (1)
    • ►  March 2018 (5)
    • ►  February 2018 (4)
    • ►  January 2018 (3)
  • ►  2017 (4)
    • ►  September 2017 (1)
    • ►  August 2017 (2)
    • ►  July 2017 (1)
  • ▼  2016 (9)
    • ►  September 2016 (1)
    • ►  July 2016 (3)
    • ▼  June 2016 (1)
      • Be Special Just The Way You Are
    • ►  April 2016 (4)
  • ►  2015 (2)
    • ►  June 2015 (1)
    • ►  March 2015 (1)
  • ►  2014 (8)
    • ►  August 2014 (2)
    • ►  July 2014 (1)
    • ►  June 2014 (2)
    • ►  April 2014 (1)
    • ►  January 2014 (2)
  • ►  2013 (26)
    • ►  December 2013 (4)
    • ►  November 2013 (5)
    • ►  October 2013 (2)
    • ►  September 2013 (1)
    • ►  August 2013 (3)
    • ►  June 2013 (2)
    • ►  April 2013 (1)
    • ►  March 2013 (3)
    • ►  February 2013 (2)
    • ►  January 2013 (3)
  • ►  2012 (22)
    • ►  December 2012 (1)
    • ►  November 2012 (1)
    • ►  October 2012 (1)
    • ►  September 2012 (2)
    • ►  August 2012 (3)
    • ►  July 2012 (5)
    • ►  June 2012 (9)
  • ►  2010 (2)
    • ►  April 2010 (2)

Categories

  • cerita guru (1)
  • cerita PPL (1)
  • corat-coret (37)
  • kuliah (2)
  • meluangkan waktu (3)
  • nyastra (2)
  • opini (36)
  • perjalanan (6)
  • The Journey of Emak-emak (9)

Created with by ThemeXpose . Distributed by Weblyb