Copyright © Widya's Babble
Design by Dzignine
Saturday, 31 March 2018

Jangan Asal Speak Up

Peran manusia sebagai makhluk sosial menuntut kita untuk bisa berkomunikasi secara sosial, entah lewat tulisan atau yang lebih seringkali kita lakukan, secara lisan. Manusia diberi kemampuan berbicara lewat proses belajar. Masih ingatkah kita dengan kata pertama yang kita ucapkan? Kebanyakan berbicara "mama" sesuai dengan yang sering ia dengar. Ada juga yang malah mengucapkan kata "ayah" padahal si Ibu lebih sering berinteraksi dengan bayinya. Lucu kalau kita mengingat atau melihat proses bagaimama seorang bayi belajar berbicara.

Beranjak besar, berbagai kosakata kita kenal. Entah lewat lingkungan bermain atau media televisi. Semakin besar, tuntunan zaman juga makin besar. Orang tua menyarankan "baca koran, supaya pengetahuanmu bertambah" karena biasanya banyak istilah baru yang kita tahu.

Istilah yang kita tahu kemudian kita gunakan. Apa yang kita fahami, kita sampaikan kembali. Meski tak jarang ... apa yang kita fahami ... belum sepenuhnya sesuai dengan kebenaran yang ada. Ilmu pengetahuan mengenal sifat relativitas, maka apa yang dianggap benar saat itu, bisa diterima banyak pihak selama belum ada teori baru yang menyanggah teori sebelumnya.

Tapi kehidupan tidak hanya sebatas ilmu pengetahuan yang diisi orang-orang bernalar dengan daya analitis tinggi serta rangkaian fakta yang dapat diuji. Ada beberapa sisi kehidupan dengan orang-orang yang hanya pandai menerka tapi merasa menjadi orang yang paling tahu dan hebat dalam merangkai hipotesis. Mereka lupa ada rangkaian data yang tidak mampu mereka jamah, privasi.

Tidak setiap orang membiarkan orang lain masuk ke hidupnya terlalu jauh. Sebagian mungkin bisa menunjukkan dirinya seutuhnya pada lingkungan. Sebagian lagi hanya memunculkan beberapa sisi dan meninggalkan sisi yang lain untuk dia simpan sendiri. Apa itu sebuah kesalahan? Ketika kita melakukan aksi menuntut berbagai hak pada lembaga besar, kadang kita lupa memenuhi hak orang lain pada organisasi yang lebih kecil, diri kita sendiri. Menjaga privasi orang lain.

Setiap orang punya kemampuan berbicara, tapi tidak semua orang punya kemampuan mengatur apa yang mereka bicarakan.

Setiap orang memiliki 'pengetahuan', tapi tanya kembali apa kita memiliki wewenang yang cukup untuk menyampaikan apa yang kita tahu?

"Ini bukan rahasia. Orang itu tidak pernah menambahkan embel-embel 'jangan bilang siapa-siapa'"

"Ini sudah rahasia umum. Semua orang sudah tahu."

"Batasan ghibah itu membicarakan apa yang ada pada diri orang lain yang jika ia mendengarnya, maka ia tidak suka. Sementara, ini bukan sebuah aib yang akan membuat ia tidak suka."

Sebelum mengeluarkan pembelaan demi menyamankan hati, pernah coba bertanya ini pada diri sendiri :

Apakah ada keuntungan jika saya membicarakan ini?

Apakah ada kerugian jika saya memilih diam?

Apakah ada batasan yang jelas tentang apa yang ia suka dan tidak suka?

Apakah ada jaminan orang-orang yang mendengar sudah memiliki hati yang cukup bersih untuk memandang segala sesuatu dari sisi positifnya?

Apakah ada jaminan tidak akan ada dampak negatif ketika saya menyampaikan ini?

Masih banyak orang dengan kemampuan mengumpulkan data yang lebih akurat, memilih diam karena dia tahu batasan diri. Ya batasan manusia dalam menerka atau pun berencana akan kalah jauh dengan Allah yang Maha membolak-balik segala sesuatu.
Wednesday, 28 March 2018

Baso Iga Buntel di Garut.

Kantor saya tetap memberlakukan jam kerja di hari Sabtu. Jadi bahagia sekali ketika Sabtu tanggal merah, bisa merasakan bagaimana libur dua hari dalam sepekan. Demi mengisi agar tetap bermanfaat, maka saya memutuskan untuk silaturahim ke Garut. Rencana pergi selepas subuh, malah susah melepas godaan selimut dan akhirnya pergi sekitar pukul 6.

Sampai di sana masih pagi. Masih jam 9 lebih. Ngobrol-ngobrol sebentar sambil makan suguhan nasi plus ceker yang dibumbui .. apa ya? Ga tau. Hahaha. Karena tak ada kegiatan lagi akhirnya mulai mencari tempat makan apa yang agak aneh di Garut. Dari hasil pencarian, kebanyakan masih tentang baso cilok, suki dan yakiniku ala-ala yang di Bandung aja udah mulai berantakan. Akhirnya menemukan Baso Iga. Alamatnya di Jl. Baratayudha pertigaan makorem. Karena ga sempet foto, bisa cek di ig-nya @baso_buntel_babeh. Oh ya, buat yang males langsung ke tempatnya, bisa DO atau via go-food. Tapi saat itu di go-food belum ada daftar menunya. Jadi harus pesen manual.

Sebetulnya baso jenis ini udah ada juga di Bandung. Tapi emang belum pernah nyoba. Pamornya kayanya masih kalah sama baso tengkleng. Makanya demi mengalahkan penasaran, meski ini di kota orang, coba aja karena baca komen dari orang katanya enak.

Lokasinya strategis dan mudah ditemukan, karena di pertigaan dan ada spanduk juga di bagian depan. Tempatnya biasa saja dengan konsep lesehan. Tapi agak kecewa karena untuk ukuran penjual makanan yang perlu membangkitkan selera makan, harusnya penataan di atas meja juga perlu diperhatikan. Proses clean up meja kaya jadi dilakukan ala kadarnya, cuma beresin mangkok dan alat bekas makan lain. Kecap dimana, saos dimana, kerupuk tercecer dibiarkan gitu aja. Sampai saya jadi gereget sendiri buat beresin saking ngalangin pandangan. Bukan ngeluh karena bantuinnya ya. Tapi jadi bahan pelajaran buat para pengusaha kuliner, kebersihan dan kerapihan tempat juga perlu diperhatikan.

Oke akhirnya lihat menu. Untuk ukuran baso iga relatif murah. Menu lengkap harganya cuma 20k aja. Kalo mau porsi setengah juga ada. Minuman beragam mulai dari air mineral, jus sampai kelapa dawegan juga ada. Murah meriah lah. Akhirnya pesen baso iga komplit dan jus strawberry.

Isi menu ini banyaaak banget. Ada mie, bihun, sayuran, siomay basah isi ayam, tahu, baso kecil, dan baso iga itu. Kuahnya standar. Mie bihun juga yaa standar ya. Siomay basah isi ayam juga yang sering kita makan di yamin atau bakmi. Tahunya juga standar yang sering kita makan di cuankie. Baso kecilnya enak. Baso iganya? Nahhh. Kalau kata orang enak, malah menurut saya biasa aja dan lebih enak baso kecilnya. Daging iganya malah jadi kehilangan rasanya. Mungkin karena terlalu lama direbus kali ya. Akhirnya tekstur unik iganya malah cenderung hampir hilang. Yaa ujung-ujungnya kaya makan baso biasa.

Recomended? Iya kalau untuk yang lapar mengingat porsinya kenyang ko untuk ukuran cowok juga. Tapi buat yang cari rasa, kita coba bandingkan dengan yang di Bandung ya.

Jus strawberrynya? No juga. Cuma berasa susu aja. Heee. Mending beli teh botol aja dengan rasa yang udah tau biar ga kecewa.

Sekian review singkat jajanan di Garut. Untuk ukuran kuliner di Garut, lumayan lah dengan harga yang ga terlalu mahal juga.
Friday, 9 March 2018

Merapikan Media Sosial

Tema berkenaan tentang media sosial kayanya lagi seneng banget buat ditulisin. Hehehe. Ga tau kenapa akhir-akhir ini lagi banyak merenung tentang ini. Karena jujur aja kayanya hampir lebih dari 2 jam tangan ini pasti buka medsos. Apalagi kalau nyambung sama wifi. Bagaikan dimanja keadaan.

Sementara itu, akhir-akhir ini juga, keinginan untuk memperbaiki diri lagi menggebu. Lagi banyak merenung juga tentang usia segini tapi udah bisa melakukan apa sih buat masyarakat? Atau setidaknya prestasi apa aja yang udah diraih? Jadilah ada bagian perenungan tentang apakah ada manfaat dari aktifitas sehari-hari? Atau jangan-jangan hanya sekadar menghabiskan sisa umur di dunia? Apalagi kalau memikirkan si medsos ini yang lumayan menghabiskan waktu (saya sih). Karena stop dari media sosial itu rada ga mungkin, maka mulai terfikir bagaimana caranya supaya si medsos ini tetap bisa ngasih manfaat minimal buat diri sendiri dulu aja. Bagi beberapa orang yang sudah bisa 'belajar' lewat media sosial, mungkin fikiran saya jadi terkesan telat ya.  

Oke, bermula dari fikiran bahwa scrolling media sosial ini cukup menguras waktu saya dalam sehari, padahal kewajiban lain sebagai manusia yang luput saya laksanakan. Yang sederhana aja kaya menuntut ilmu. Sudah seberapa tau kita tentang sejarah Islam, sementara kita hafal banget sama gosip artis dari akun lambe-lambean? Dan masih banyak ilmu yang harusnya dipelajari entah itu tentang keduniawian atau yang bisa nolong kita di akhirat nanti, malah lupa diperdalam gara-gara godaan si media sosial.

Jadi, yang pertama dilakukan adalah ..
Memfilter lingkaran media sosial.
Atas nama persahabatan dan menjunjung asas silaturahim, ga mungkin dong kita unfollow temen-temen kita. Walau pun kadang postingan mereka bikin kita jadi menghabiskan waktu untuk stalking yang tidak berfaedah. Maka, untuk mengimbangi mata yang tak sengaja membaca urusan orang lain, mari follow akun-akun berfaedah yang biasa share ilmu. Meski sampai sekarang masih butuh informasi tentang akun-akun itu.

Serta yang kedua dilakukan adalah ...
Menundukkan hati, baik dari sisi pelaku aktif mau pun pelaku pasif media sosial.
Sebagai pelaku aktif, kurang-kurangi update yang sifatnya hanya untuk "pamer" deh ah. Karena kita ga tau follower kita orang-orang seperti apa. Entah ini masuk kategori suudzon atau bukan, tapi yang jelas khawatir ada oknum yang nyinyir dengan kebahagiaan yang kita posting. Karena kalau ditanya tujuannya apa update kegiatan makan, liburan, atau belanja? Ditanya ulang apa ini ada manfaatnya untuk diri sendiri dan orang lain? Walau pun menurut kita bermanfaat, kita ga tau isi hati orang seperti apa. Tidak ada yang menjamin bahwa semua orang menyukai kita. Jadi belum tentu orang juga mau tau dengan kegiatan kita atau turut senang dengan kebahagiaan kita.

Dan dari segi pengguna pasif, kurangin nyinyir dengan postingan orang dong. Karena dinyinyirin itu ga enak, maka hindari nyiyir-in orang. Meski prinsip pertama mengurangi update "kepameran", tapi tetap menghargai postingan orang. Mencoba melihat dari sisi positif tiap postingan yang kita lihat dan jangan lupa filter informasi. Semoga ini juga bagian dari menundukkan hati. Lihat orang "pamer" sekadar kue kekinian pasti bikin ngiler, beli aja nanti abis gajian. Tapi ga perlu pake balik update ya. Selamat belajar bijak.