Copyright © Widya's Babble
Design by Dzignine
Thursday, 13 July 2017

Perihal Memperbaiki Diri

“Setiap anak yang lahir dilahirkan di atas fitrah, maka kedua orang tuanya lah yang menjadikannya Yahudi, Majusi, atau Nasrani.”

Itu kutipan hadits yang saya sendiri lupa siapa yang meriwayatkannya. Hehe. Tulisan macam apa.

Tapi ada beberapa hal menarik yang akhirnya ingin saya bahas tentang hadits itu dan berkaitan dengan sesuatu yang sedang hits bin kekinian yang alhamdulillah sifatnya baik.

Manusia itu dilahirkan dalam keadaan fitrah, bersih, baik. Dan beruntung rasanya bagi manusia yang dilahirkan dalam keluarga yang baik, meski tidak menjamin akan mati dalam kondisi baik pula.

Lingkungan. Iya. Pengaruhnya besar.

Lantas apa manusia yang sempat tidak baik tidak memiliki kesempatan untuk memperbaiki diri, hijrah, atau apa itu namanya. Seneng sih ketika banyak orang beramai-ramai mengkampanyekan ini. Penghafal qur'an sekarang ga kalah pamor sama penyanyi papan atas. Onlineshop gamis syari mudah ditemui dibanding yang jualan baju kurang bahan dan jahitan.

Sempet terpikir tentang .... esensi hijrah itu apa?

Saya sendiri bukan orang yang menggaung-gaungkan kata itu dengan selalu menulis dalam hashtag postingan medsos.
Kenapa?

Apa artinya saya tidak berkeinginan memperbaiki diri?

Kembali pada fitrah manusia, apa seorang maling tidak ingin punya pekerjaan yang lebih baik dan lebih mulia?

Beberapa orang, seperti saya, alhamdulillah mendapat lingkungan yang baik dengan teman-teman yang selalu mengingatkan dalam kebaikan. Sementara saya sendiri? Saya justru malu. Seolah saya menjadi duri dalam daging yang terlihat baik dari luar lalu dalamnya? Allah yang telah menutupi aib setiap hambanya pasti lebih tahu.

Tentang hijrah dan tektekbengek tentang memperbaiki diri yang sudah jadi fitrah manusia itu juga jadi banyak penyebabnya.

Beberapa orang mencoba hijrah karena terbawa kawan. Ada juga yang memang mendapat pencerahan sendiri karena pengalaman baik maupun buruk. Meski ada juga niat terselubung yang menurut saya jadi 'rada kurang pas' ... katanya supaya jodohnya baik. Kalau saya mau sewot "helloowww pernah denger ungkapan orang baik untuk orang baik ga? Terus menurut situ Allah menilai baik itu dari sisi mananya? Dari taubat yang baru sekejap terus langsung dapat bonus?"

Meski sebetulnya sah-sah saja dan banyak orang yang baru saja berhijrah lalu dapat jodoh orang yang kapasitas baiknya jauh di atas dia. Meski saya belum sempat tanya apa waktu dia berniat hijrah lillahitaala atau karena ... ya sudah lah.

Perjuangan untuk jadi baik juga memang tak mulus. Belum lagi tentang orang yang merasa sinis dan nyinyir dengan perubahan diri. Apalagi bagi sebagian orang yang pernah merasa disakiti.

Rasanya susah mempercayai kalo orang yang dulu bermaksiat bersama, kini malah jadi sok bijak dan full nasihat.

Rasanya tak perlu mengurusi orang macam ini. Mereka juga tak akan kebagian pahala dari perubahan diri. Soalnya saya pernah mengalaminya sih. Hahaha. Karena sakit hati, semua kebaikan yang ada dalam dirinya jadi tertutup kabut kebencian. Cieee. Jadi tidak bisa objektif dalam menilai.

Tapi sebetulnya kalau dipikir merugi juga. Memelihara benci hanya akan meuai penyakit hati. Karena ternyata hanya diri kita yang menilai begitu. Sementara yang dibenci tetap bahagia dengan kehidupannya dan sama sekali tidak meraa terusik. Orang lain juga tidak jadi ikut membenci.

Jadiiii, yang sedang hijrah istiqomah aja lahhh. Tidak perlu repot memikirkan penilaian orang. Karena penilaian yang paling benar itu hanya dari Allah. Kan Dia yang lebih tahu niat dan usaha kita.
Yang belum (macam si aku)?

Sok atuh segera dijemput yang namanya hidayahnya itu. Jangan sampai lebih cepat dijemput maut. Dan yang pasti mah ... jangan nyinyir sama orang yang lagi jadi baik atau belum nemu jalan buat baik. Saling mendoakan dalam kebaikan aja. Biar Malaikat juga mendoakan yang baik.
Saturday, 17 September 2016

Mendulang Optimis Saat Titik Kritis

Sumber : abbiummi.com
Pernahkah anda melihat seorang siswa yang mogok sekolah? Entah karena terjerumus pergaulan remaja atau asik dengan dunia sendirinya lewat bermain games. Atau seorang anak yang memberontak orang tua, pergi dari rumah dengan alasan cinta atau cita-cita yang tak direstui?

Sekilas, anda mungkin jengah melihat ulah mereka yang tak tahu diuntung, menyia-nyiakan kesempatan, waktu muda hanya untuk kesenangan sesaat. Namun, selang beberapa tahun kemudian, anda bisa melihat kehidupan mereka berjalan baik dan kembali normal seperti orang lain pada umumnya. Seperti masa lalu yang telah mereka alami tak berpengaruh pada apa yang mereka jalani saat ini.

Bagi saya itu lah titik kritis. Titik dimana anda begitu merasa terpuruk dan bagi anda, orang di sekitar hanya bisa menyalahkan tanpa bisa memahami kondisi psikologi anda yang butuh dorongan dan dukungan.

Merasa menjadi bagian roda paling bawah, tak terperhatikan, atau justru menjadi pusat perhatian karena ketidakmampuan. Dipandang orang bukan karena prestasi, tapi karena anda melihat sorot prihatin dan iba dalam mata mereka. Pasti lah bukan keadaan yang membuat anda menjadi termotivasi, seperti yang anda harapkan.

Saya percaya bahwa setiap orang akan memiliki titik kritisnya masing-masing. Dan tak ada yang tahu kapan datang. Seperti seorang pedagang yang tidak tahu kapan bangkrut atau seorang pengusaha yang tidak tahu kapan rugi. Sebagian besar mengalaminya pada masa muda. Dan selamatlah anda ketika mendapati titik kritis anda berada pada masa itu. Karena artinya, masih banyak waktu untuk memperbaiki.

Lalu bagaimana bila kondisi itu datang justru ketika teman anda sedang menikmati gelimangan prestasi hasil kerja keras mereka? Sementara anda sedang terseok, mencoba bangun dari keruntuhan yang begitu dramatis. Jatuh dari podium yang tanpa anda sadari, punya pondasi yang rapuh, sehingga mudah roboh saat anda merayakan euphoria kemenangan.

Atau itu cara Allah menegur anda karena kesombongan yang sempat anda miliki. Atau justru Allah sedang membelai lembut anda dengan kasih sayang tanpa batas yang hanya bisa anda miliki kalau anda juga punya sabar yang juga tanpa batas.

Titik kritis bukan satu kondisi mudah untuk dipanjat kembali. Walau kadang beberapa orang tetap tersenyum dan terlihat baik-baik saja. Mereka bilang bahwa semua orang bisa kembali merangkak, asal memiliki tekad yang kuat. Sementara anda merasa bahwa posisi anda saat ini jauh di bawah yang mereka sangka. Kalau begitu, percayalah kembali bahwa Allah akan mengangkat lebih tinggi lagi seseorang yang telah jatuh dari jurang dibandingkan seseorang yang hanya dijatuhkan ke dasar kolam renang.

Semua orang pernah jatuh. Setiap orang juga memberikan saran ketika anda jatuh. Tidak perlu pesimis dengan saran orang lain yang tidak bekerja pada anda. Karena setiap orang punya cara sendiri untuk bangun. Mungkin anda belum menemukan cara yang tepat. Tetap melangkah ke depan sembari mencari jalan lain. Tak perlu risau dengan kicauan orang. Yang perlu dilakukan hanyalah melakukan yang terbaik dari apa yang anda bisa dan menjadi yang terbaik menurut versi anda sendiri.

Mengutip quotes dari Tere Liye
Biji buah yang dimasukkan ke dalam lubang, kemudian ditimbun tanah, mungkin merasa hidupnya sudah gelap sekali. Sendirian. Untuk esok-lusa, dia akhirnya menyaksikan, tubuhnya tumbuh, membesar, tinggi, kuat, menjulang kemudian bisa menatap sekitar yang begitu indah. Bermanfaat bagi sekelilingnya. 
Begitulah kehidupan kita. Barangsiapa yang merasa merana sekali, seperti dimasukkan dalam lubang gelap masalah kehidupan. Maka, insya Allah, boleh jadi Allah sedang mempersiapkan kita agar jadi pohon yang tinggi menjulang besok lusa. Bermanfaat bagi sekitarnya. - Tere Liye
Lalui saja titik kritis itu. Toh, hanya akan beberapa jenak saja. Seperti seorang remaja yang kehilangan arah kemudian menjadi anak yang membanggakan.
Saturday, 16 July 2016

Hanya Karena Kami Masih Sendiri, Bukan Berarti Kamu Perlu Dikasihani

Tulisan ini terbit di hipwee community tanggal 15 Juli 2016. Dapet rekor baru nih di hipwee community, dalam sehari terbit hampir nembus 500 shares. Hihi. Gini aja girang. Soalnya mengingat tulisan sebelumnya mentok di 98 dan ga nambah-nambah lagi kayanya. Tulisan ini copy-paste banget ko sama yang di hipwee, cuma disana plus foto penambah keindahan gitu. Buat yang mau baca versi sana mangga ini linknya. Buat yang mau baca disini aja, juga silahkan.

Belum menikah saat yang lain sudah itu terlihat asing bagi sebagian orang. Padahal kami menganggapnya wajar dan tidak menjadikannya suatu beban. Kami sadar bahwa kehidupan setiap orang beragam. Standar bahagianya pun jadi bermacam-macam. Kalau kebanyakan wanita Indonesia menikah di bawah umur 25, itu hanya karena budaya. Tidak ada aturan tertulis batasan maksimal seorang wanita harus melepas masa lajangnya.

Bagi kami pertanyaan semacam itu menjadi hiburan sekaligus alarm alam. Kami yang menjawab dengan hanya senyuman bukan tidak tahu harus menjawab apa. Kami hanya bingung mulai dari mana harus menjelaskan. Tenang saja. Kami tetap wanita yang akan selalu ingat akan kodratnya. Kami tetap bercita-cita menggenapkan naluri,  menjadi istri juga seorang ibu.

Pergi ke pesta tanpa pasangan memang pilihan kami
Kami senang menerima undangan atau hanya sekadar kabar pernikahan. Kami juga tetap hadir dan turut bahagia. Namun, kedatangan kami yang seorang diri kadang malah mengundang tatapan aneh. Seolah kami adalah badut pesta yang lupa membawa hiasan merah di hidungnya.
Kami hanya mau jadi diri sendiri tanpa perlu terjebak dalam kepura-puraan. Bukan enggan dengan kawan dari lawan jenis. Kami dengan senang hati menerima ajakan, tapi juga tidak mau berpusing ria mencari karena menganggap itu sebuah keharusan. Bagi kami datang dengan orang tua atau teman wanita juga tak masalah. Toh sang pengantin juga tetap senang hati dengan doa dan kehadiran, bukan melihat dengan siapa kami datang.

Kami sadar bahwa pernikahan bukan sekadar hubungan untuk meneruskan garis keturunan
Foto bayi yang lucu dan potret keluarga bahagia bukannya tidak menggelitik kami untuk menyegerakan. Saat kami turut berkomentar betapa lucunya anak pertama kalian, kami juga sedang membayangkan akan seperti apa milik kami nantinya.
Sejatinya pernikahan menjadi ikatan sakral yang hanya akan dipisahkan oleh ajal. Karena itu, seperti yang sudah dilakukan orang-orang, kami juga berhati-hati dalam memutuskan. Kami tak mau kemudian hanya menjadi orang tua yang mengorbankan anak-anak demi mempertahankan ego semata. Kami sedang mempersiapkan diri menjadi orang tua terbaik bagi generasi yang akan lebih baik dari kami nantinya. Tentunya upaya yang kami lakukan akan sia-sia jika kami tak menemukan orang yang juga melakukan persiapan.

Tak perlu risau, kami tetap bisa tampil muda dan segar
Kebebasan kami dari repotnya mengurus tetek bengek urusan rumah tangga membuat kami punya waktu yang lebih leluasa. Kami tak perlu repot mengurus suami pada pagi hari dan bisa mandi dalam bathtub dengan aromaterapi. Saat weekend, kami juga bebas seharian memanjakan diri di salon tanpa perlu ijin siapa pun.
Bukan kami sedang bersorak atas kerepotan pernikahan. Kami hanya ingin kalian sadar bahwa kami tahu kok cara merawat diri dan tampil cantik. Jadi tolong berhenti memberikan tips kecantikan untuk mencari pasangan. Tolong langsung bawakan saja calonnya.

Bukannya pemilih, kami hanya perlu waktu mencari orang asing yang akan diajak berbagi
Tak bisa dipungkiri bahwa laki-laki yang akan mendampingi nanti adalah orang asing pada mulanya. Mereka bukan orang tua atau saudara kandung yang biasa kami ajak bercanda. Kami perlu waktu menyeseuaikan selama pacaran atau bahkan taaruf yang singkat itu. Berbagai perbedaan akan kami pelajari dan kami terus membuka mata dan telinga untuk tahu tentang dia lebih banyak. Karena kami tahu, setelah menikah kami harus menutupnya rapat-rapat agar tak terusik gosip-gosip tetangga.
Pernikahan bukan sekadar berbagi kamar atau lemari bersama. Kami tahu menerima kehadiran orang lain di sebelah saat bangun pagi akan selalu menimbulkan sensasi kaget yang aneh untuk beberapa hari. Ya, mungkin kami juga perlu mencari orang asing dengan ritme dan tempo dengkuran yang bisa menyeimbangi.

Kami akan menikah pada waktunya
Jangan anggap kesendirian kami sebagai bentuk antipati kami pada sebuah hubungan pernikahan. Kami sadar dan tahu betul tentang ibadah untuk menggenapkan setengah agama itu. Kami tetap memikirkan. Kami juga bukan kaum yang memandang sinis pada mereka yang memutuskan menikah dengan mudah. Kami tetap turut bahagia saat melihat kawan merubah statusnya.
Kami hanya perlu waktu yang tidak sama dengan mereka. Berbagai alasan mulai dari karir hingga sekolah lagi bukan sebagai alibi, namun memang itulah kami. Bukankah kita semua diajarkan untuk menghargai setiap ideologi?

Doakan saja

Kami tetap akan menghargai berbagai guyonan untuk cepat menikah. Kami hanya tidak ingin dipandang kasihan. Akan lebih baik kalimat pertanyaan “kapan menikah?” diganti dengan doa “mudah-mudahan cepat menikah ya”. Itu akan terdengar lebih menyejukkan dan lebih bisa kami terima.