Copyright © Widya's Babble
Design by Dzignine
Saturday, 17 September 2016

Mendulang Optimis Saat Titik Kritis

Sumber : abbiummi.com
Pernahkah anda melihat seorang siswa yang mogok sekolah? Entah karena terjerumus pergaulan remaja atau asik dengan dunia sendirinya lewat bermain games. Atau seorang anak yang memberontak orang tua, pergi dari rumah dengan alasan cinta atau cita-cita yang tak direstui?

Sekilas, anda mungkin jengah melihat ulah mereka yang tak tahu diuntung, menyia-nyiakan kesempatan, waktu muda hanya untuk kesenangan sesaat. Namun, selang beberapa tahun kemudian, anda bisa melihat kehidupan mereka berjalan baik dan kembali normal seperti orang lain pada umumnya. Seperti masa lalu yang telah mereka alami tak berpengaruh pada apa yang mereka jalani saat ini.

Bagi saya itu lah titik kritis. Titik dimana anda begitu merasa terpuruk dan bagi anda, orang di sekitar hanya bisa menyalahkan tanpa bisa memahami kondisi psikologi anda yang butuh dorongan dan dukungan.

Merasa menjadi bagian roda paling bawah, tak terperhatikan, atau justru menjadi pusat perhatian karena ketidakmampuan. Dipandang orang bukan karena prestasi, tapi karena anda melihat sorot prihatin dan iba dalam mata mereka. Pasti lah bukan keadaan yang membuat anda menjadi termotivasi, seperti yang anda harapkan.

Saya percaya bahwa setiap orang akan memiliki titik kritisnya masing-masing. Dan tak ada yang tahu kapan datang. Seperti seorang pedagang yang tidak tahu kapan bangkrut atau seorang pengusaha yang tidak tahu kapan rugi. Sebagian besar mengalaminya pada masa muda. Dan selamatlah anda ketika mendapati titik kritis anda berada pada masa itu. Karena artinya, masih banyak waktu untuk memperbaiki.

Lalu bagaimana bila kondisi itu datang justru ketika teman anda sedang menikmati gelimangan prestasi hasil kerja keras mereka? Sementara anda sedang terseok, mencoba bangun dari keruntuhan yang begitu dramatis. Jatuh dari podium yang tanpa anda sadari, punya pondasi yang rapuh, sehingga mudah roboh saat anda merayakan euphoria kemenangan.

Atau itu cara Allah menegur anda karena kesombongan yang sempat anda miliki. Atau justru Allah sedang membelai lembut anda dengan kasih sayang tanpa batas yang hanya bisa anda miliki kalau anda juga punya sabar yang juga tanpa batas.

Titik kritis bukan satu kondisi mudah untuk dipanjat kembali. Walau kadang beberapa orang tetap tersenyum dan terlihat baik-baik saja. Mereka bilang bahwa semua orang bisa kembali merangkak, asal memiliki tekad yang kuat. Sementara anda merasa bahwa posisi anda saat ini jauh di bawah yang mereka sangka. Kalau begitu, percayalah kembali bahwa Allah akan mengangkat lebih tinggi lagi seseorang yang telah jatuh dari jurang dibandingkan seseorang yang hanya dijatuhkan ke dasar kolam renang.

Semua orang pernah jatuh. Setiap orang juga memberikan saran ketika anda jatuh. Tidak perlu pesimis dengan saran orang lain yang tidak bekerja pada anda. Karena setiap orang punya cara sendiri untuk bangun. Mungkin anda belum menemukan cara yang tepat. Tetap melangkah ke depan sembari mencari jalan lain. Tak perlu risau dengan kicauan orang. Yang perlu dilakukan hanyalah melakukan yang terbaik dari apa yang anda bisa dan menjadi yang terbaik menurut versi anda sendiri.

Mengutip quotes dari Tere Liye
Biji buah yang dimasukkan ke dalam lubang, kemudian ditimbun tanah, mungkin merasa hidupnya sudah gelap sekali. Sendirian. Untuk esok-lusa, dia akhirnya menyaksikan, tubuhnya tumbuh, membesar, tinggi, kuat, menjulang kemudian bisa menatap sekitar yang begitu indah. Bermanfaat bagi sekelilingnya. 
Begitulah kehidupan kita. Barangsiapa yang merasa merana sekali, seperti dimasukkan dalam lubang gelap masalah kehidupan. Maka, insya Allah, boleh jadi Allah sedang mempersiapkan kita agar jadi pohon yang tinggi menjulang besok lusa. Bermanfaat bagi sekitarnya. - Tere Liye
Lalui saja titik kritis itu. Toh, hanya akan beberapa jenak saja. Seperti seorang remaja yang kehilangan arah kemudian menjadi anak yang membanggakan.
Saturday, 16 July 2016

Hanya Karena Kami Masih Sendiri, Bukan Berarti Kamu Perlu Dikasihani

Tulisan ini terbit di hipwee community tanggal 15 Juli 2016. Dapet rekor baru nih di hipwee community, dalam sehari terbit hampir nembus 500 shares. Hihi. Gini aja girang. Soalnya mengingat tulisan sebelumnya mentok di 98 dan ga nambah-nambah lagi kayanya. Tulisan ini copy-paste banget ko sama yang di hipwee, cuma disana plus foto penambah keindahan gitu. Buat yang mau baca versi sana mangga ini linknya. Buat yang mau baca disini aja, juga silahkan.

Belum menikah saat yang lain sudah itu terlihat asing bagi sebagian orang. Padahal kami menganggapnya wajar dan tidak menjadikannya suatu beban. Kami sadar bahwa kehidupan setiap orang beragam. Standar bahagianya pun jadi bermacam-macam. Kalau kebanyakan wanita Indonesia menikah di bawah umur 25, itu hanya karena budaya. Tidak ada aturan tertulis batasan maksimal seorang wanita harus melepas masa lajangnya.

Bagi kami pertanyaan semacam itu menjadi hiburan sekaligus alarm alam. Kami yang menjawab dengan hanya senyuman bukan tidak tahu harus menjawab apa. Kami hanya bingung mulai dari mana harus menjelaskan. Tenang saja. Kami tetap wanita yang akan selalu ingat akan kodratnya. Kami tetap bercita-cita menggenapkan naluri,  menjadi istri juga seorang ibu.

Pergi ke pesta tanpa pasangan memang pilihan kami
Kami senang menerima undangan atau hanya sekadar kabar pernikahan. Kami juga tetap hadir dan turut bahagia. Namun, kedatangan kami yang seorang diri kadang malah mengundang tatapan aneh. Seolah kami adalah badut pesta yang lupa membawa hiasan merah di hidungnya.
Kami hanya mau jadi diri sendiri tanpa perlu terjebak dalam kepura-puraan. Bukan enggan dengan kawan dari lawan jenis. Kami dengan senang hati menerima ajakan, tapi juga tidak mau berpusing ria mencari karena menganggap itu sebuah keharusan. Bagi kami datang dengan orang tua atau teman wanita juga tak masalah. Toh sang pengantin juga tetap senang hati dengan doa dan kehadiran, bukan melihat dengan siapa kami datang.

Kami sadar bahwa pernikahan bukan sekadar hubungan untuk meneruskan garis keturunan
Foto bayi yang lucu dan potret keluarga bahagia bukannya tidak menggelitik kami untuk menyegerakan. Saat kami turut berkomentar betapa lucunya anak pertama kalian, kami juga sedang membayangkan akan seperti apa milik kami nantinya.
Sejatinya pernikahan menjadi ikatan sakral yang hanya akan dipisahkan oleh ajal. Karena itu, seperti yang sudah dilakukan orang-orang, kami juga berhati-hati dalam memutuskan. Kami tak mau kemudian hanya menjadi orang tua yang mengorbankan anak-anak demi mempertahankan ego semata. Kami sedang mempersiapkan diri menjadi orang tua terbaik bagi generasi yang akan lebih baik dari kami nantinya. Tentunya upaya yang kami lakukan akan sia-sia jika kami tak menemukan orang yang juga melakukan persiapan.

Tak perlu risau, kami tetap bisa tampil muda dan segar
Kebebasan kami dari repotnya mengurus tetek bengek urusan rumah tangga membuat kami punya waktu yang lebih leluasa. Kami tak perlu repot mengurus suami pada pagi hari dan bisa mandi dalam bathtub dengan aromaterapi. Saat weekend, kami juga bebas seharian memanjakan diri di salon tanpa perlu ijin siapa pun.
Bukan kami sedang bersorak atas kerepotan pernikahan. Kami hanya ingin kalian sadar bahwa kami tahu kok cara merawat diri dan tampil cantik. Jadi tolong berhenti memberikan tips kecantikan untuk mencari pasangan. Tolong langsung bawakan saja calonnya.

Bukannya pemilih, kami hanya perlu waktu mencari orang asing yang akan diajak berbagi
Tak bisa dipungkiri bahwa laki-laki yang akan mendampingi nanti adalah orang asing pada mulanya. Mereka bukan orang tua atau saudara kandung yang biasa kami ajak bercanda. Kami perlu waktu menyeseuaikan selama pacaran atau bahkan taaruf yang singkat itu. Berbagai perbedaan akan kami pelajari dan kami terus membuka mata dan telinga untuk tahu tentang dia lebih banyak. Karena kami tahu, setelah menikah kami harus menutupnya rapat-rapat agar tak terusik gosip-gosip tetangga.
Pernikahan bukan sekadar berbagi kamar atau lemari bersama. Kami tahu menerima kehadiran orang lain di sebelah saat bangun pagi akan selalu menimbulkan sensasi kaget yang aneh untuk beberapa hari. Ya, mungkin kami juga perlu mencari orang asing dengan ritme dan tempo dengkuran yang bisa menyeimbangi.

Kami akan menikah pada waktunya
Jangan anggap kesendirian kami sebagai bentuk antipati kami pada sebuah hubungan pernikahan. Kami sadar dan tahu betul tentang ibadah untuk menggenapkan setengah agama itu. Kami tetap memikirkan. Kami juga bukan kaum yang memandang sinis pada mereka yang memutuskan menikah dengan mudah. Kami tetap turut bahagia saat melihat kawan merubah statusnya.
Kami hanya perlu waktu yang tidak sama dengan mereka. Berbagai alasan mulai dari karir hingga sekolah lagi bukan sebagai alibi, namun memang itulah kami. Bukankah kita semua diajarkan untuk menghargai setiap ideologi?

Doakan saja

Kami tetap akan menghargai berbagai guyonan untuk cepat menikah. Kami hanya tidak ingin dipandang kasihan. Akan lebih baik kalimat pertanyaan “kapan menikah?” diganti dengan doa “mudah-mudahan cepat menikah ya”. Itu akan terdengar lebih menyejukkan dan lebih bisa kami terima.
Thursday, 14 July 2016

Dualisme Media Sosial

Ini kali kedua saya nulis tentang media sosial. Dulu nulis "Digunakan Untuk Apa Media Sosialmu?" Sekarang setelah lama ikut-ikutan, jadi merasa kalau media sosial membawa banyak pengaruh. Positif dan negatif.

Positifnya jalur informasi jadi punya banyak lajur. Berita bunuh diri di pusat kota bisa lebih dulu disebar orang lewat status di media sosial, ketimbang wartawan beneran yang harus nulis berita secara rinci dan akurat.

Positifnya yang lain setiap orang punya lahan buat berekspresi, tanpa kudu ngirim dulu opini, yang belum tentu sesuai kriteria redaksi.

Positifnya lagi orang berbondong-bondong jadi artis dadakan, jadi selebgram lah, selebtwit lah, artis vlog, sampai yang paling negatif jadi tuna susila online pun ada. Ga perlu mangkal di Taman Lawang kan. *duhh, salah bahas

Kata artis senior sih, dulu jadi artis susah, harus bertalenta, sekarang banyak medianya lewat ajang pencari bakat. Jaman itu juga sudah lewat. Punya banyak followers sudah jadi modal untuk bisa diendorse sama produk kacangan sampai jutaan.

Selamet yeee buat ente-ente yang bisa manfaatin medsosnya buat cari uang tambahan lewat jualan online. Positif sekalee, ketimbang orang-orang yang cuma jadi korban medsos macem ane. Hiks.
Sementara yang saya rasain selama 'bermain' medsos itu jadi banyak negatifnya. Hahaha. Jangan marah ya. Emang dasarnya otak saya itu lebih banyak isi negatifnya, makanya harus ketemu yang negatif juga biar jadi positif *ga nyambung.

Negatif pertama, menghabiskan waktu.
Pernah coba ngitung berapa menit yang dihabiskan dalam sehari untuk membuka medsos? Di luar aplikasi chatting ya. Saat libur, kalau dikalkulasikan, saya bisa lebih dari 2 jam mantengin TL berbagai medsos. Hehehe. Mudah-mudahan kita semua diajuhkan dari api neraka karena waktu senggang ya. Masih banyak hal bermanfaat yang bisa dikerjakan ternyata. Hiks.

Negatif kedua, memunculkan penyakit hati
Mantan follow kita. Padahal dalam hati punya dendam terselubung yang membumbung gara-gara doi berhutang belum dibayar. Atas nama 'tidak enak' akhirnya difolback juga. Akibatnya punya celah untuk stalking, berujung tangis yang melengking. Karena liat foto doi yang sudah nikah bersama teman sebangku jaman masih ceking.

Belum lagi rasa iri, dengki hati, jika melihat postingan teman beli mobil baru, pake tas mahal, atau rajin liburan ke luar negeri. Mending kalau cuma ngelus dada, nah kalau minta suami yang cuma kuli, apa namanya kalau ga ngaca diri?
Sementara dia lupa bersyukur punya suami yang selalu pulang ke rumah dan bantu kerjaan istri. Daripada suami yang bahagiain harta, tapi juga tebar pesona sama nona-nona. Jadi suudzon. Tuh kan nambah lagi penyakit hatinya.

Negatif ketiga, salah memilih idola
Sudah dibahas di atas, bahwa medsos memunculkan artis dadakan, yang tentu saja manusia. *ya ya lah. Tak pernah lepas dari khilaf dan dosa. Tapiiii, pilih lah yang sekiranya lebih banyak memberi contoh baik. Bukan idola yang doyannya pamer barang mahal dan bikin ngiler terus menggiring kita sama konsumerisme. Mending pamer barang doang. Kalau sampe pamer body juga. Hmm. Idola sempurna hanyalah Rasulullah *gaya kan saya.

Negatif keempat, jadi follower yang sebenarnya kudet
Tak perlu pasang iklan untuk pomosi wisata baru sekarang. Cukup posting foto dengan angle pas, upload. Orang akan datang, apalagi ditambah mereka akan jadi agen iklan gratisan (foto, upload). Rantai yang diciptakan postingan akan lebih dahsyat dari rantai mulut ke mulut. *naon sih

Meskipun sebenernya miris, pengen dibilang gaul sampai harus ikut-ikutan. Jelajah lah sudut lain kota atau bahkan Indonesia, masih banyak hal indah yang belum terjamah.
Karena yang lebih kekinian itu bukan follower, tapi discover.

Negatif kelima, tanpa sadar jadi ingin pujian
Punya tempat makan baru? Ga perlu gaji chef mahal. Pasti laku. Dengan catatan, tempatnya upload-able, makanan ga enak ga masalah. Dan tunggu saja tempat anda akan penuh dengan reservasi dan waiting list. Karena jaman sekarang yang penting bisa diliat orang. Ada kebanggan tersendiri ketika postingan kita bertabur like dan tanggapan. Apalagi kalau sampai mantan ikut komentar "kamu cantikan". *jlebbb

Belum lagi masih ada lho sebagian orang yang 'pamer' aktivitas ibadahnya di medsos. Hmm, mungkin semua tergantung niat ya. Sebagai pembaca ga boleh juga sih langsung ngejudge kalo doi punya niatan riya. Tapi jadi balik ke poin negatif kedua, bikin pembaca suudzon.