Copyright © Widya's Babble
Design by Dzignine
Thursday, 17 August 2017

Tentang Kemerdekaan Diri


Merdeka itu katanya bebas. Bebas menentukan pilihan, berpendapat, dan kebebasan lain yang intinya kaya nuntut hak kita sama lingkungan sekitar. Tapi, perasaan memiliki hak itu kadang malah menggiring kita jadi orang yang 'seenaknya'.

Merdeka dari kebiasaan-kebiasaan kecil yang kadang luput karena biasanya cuma glanced dalam pikiran tapi males aja buat dipikir lebih lanjut. Karena toh orang lain juga melakukan hal yang sama.
Terkadang kesalahan itu jadi terwajarkan karena banyak dilakukan.

  • Merdeka dari pertanyaan basa-basi yg (sedikitnya) bikin orang sakit hati.
Seperti "kapan lulus?", "udah kerja belum?", "kapan nikah?", "udah isi belum?". Kedengarannya sepele ya. Kayanya udah jadi pertanyaan pertama kalo ketemu temen lama. Tapi sebetulnya yg sepele itu malah jadi berdampak besar bagi si korban. Saya bukan tipe orang yang gampang baper sih kalo ditanya tentang kapan nikah misalnya. Hehehe. Tapi dari curhatan teman, ternyata pertanyaan semacam itu malah jadi beban bagi mereka. Kasian kan. Kalo pun ga bisa nyumbang kebahagiaan, seengaknya berusaha tidak jadi penyebab mereka jadi murung. Ga mau kan orang jadi menghindar ketemu kita gara-gara takut ditanya tentang itu.

  • Merdeka dari pernyataan basa-basi yang bikin enek.
Saya mulai menggunakan komen "wahh have fun ya. Semoga selamat sampai tujuan dan kembali dengan selamat" untuk mengganti "oleh-oleh dong" kalo liat orang lagi liburan. Dan mengganti "traktir dong" dengan doa yang (insyaallah) tulus kalo tau ada orang yang lagi ulang tahun. Kedengeran peres ya? Hehe. Emang kenapa kalo pake basa-basi yang lumrah dipake orang? Memang ga apa-apa. Setiap orang punya pilihan. Bagi saya yang ulang tahun itu harusnya dikasih kado, bukan malah suruh traktirin orang. Jadi kita bersyukur atas jatah umurnya yang makin berkurang gitu? Hehe. Terlalu sarkas sih ya itu. Canda.

  • Merdeka dari segala perasaan yang jadi bibit penyakit hati.
Tinggi hati, merasa lebih baik dari orang lain, ingin dipuji, ingin diakui, ingin diberi, iri dengan apa yang orang lain miliki, pamer dengan apa yang kita miliki, dan segala macam perasaan manusiawi yang sering banget nyempil kaya cabe di gigi. Kebanyakan ga kerasa kalo sedang memelihara si rasa yang salah itu.

Selalu mencari pembenaran diri, padahal hati nurani kadang udah negur sendiri.
"Ga boleh iri sama rejeki orang lain" kata si baik. "Ih salah siapa coba dia hobinya posting seolah pamer. Bikin yang lain mupeng. Punya suami ganteng mah umpetin aja. Emang mau suaminya direbut orang" kata si jahat? kadang seolah benar ya. Padahal salah sendiri punya medsos. Udah tau pasti ada negatifnya. Terus masih sok ngambil kerjaan malaikat buat ngejudge orang.


Ya gitu lah pokoknya. Kadang emang susah buat melihat sesuatu dari sisi positifnya. Lebih mudah buat menyalahkan kondisi atau orang lain. 

Jadi sadar aja, seberapa merdeka diri kita? Ternyata diri ini juga masih terjajah oleh perasaan ga etis. Dan bahkan tanpa sadar jadi menjajah orang lain lewat perkataan atau perlakuan.
Tuesday, 1 August 2017

Merasa Lebih

Merasa lebih cantik, lebih kaya, lebih pintar. Jatohnya? Sombong. It's easy to be categorized.

Pernah ga merasa jadi orang yang lebih sibuk di kantor? Ketika jam istirahat selesai bunyi, si bos langsung aja ngasih seabreg kerjaan tanpa peduli perut yang masih penuh sama makanan yang belum sampa usus halus. Sementara yang lain masih leyeh-leyeh di mushola menikmati sajadah agak empuk tapi sedikit bau karena jarang dilaundry, dengan dalih dzikir dulu bentar. Padahal mah, lagi menikmati sepoi AC sambil nyuri tidur barang 5 menit.

Dan kita kerja dengan gerutuan dan emosi berkecamuk. Kenapa si A santai banget, sementara si aku 'dikerjain' mulu? Apa cuma aku yang kerjanya eucreug (sunda : benar) sampai ga ada yang lain yang bisa nyaingin? Haha. Menghibur diri dikit. Merasa kenapa gaji sama, tapi capenya beda?

Pada awalnya ngerasa ga apa-apa lah. Yang penting kerjaan saya. Perihal orang lain kerjanya asal, yang penting saya memberikan yang terbaik bagi perusahaan. Meski di tengah, akhirnya goyah, cape sendiri karena yang lain berasa ga bantuin, terus koar di rapat. Dalihnya banyak. Boro-boro dapat penghargaan atau seenggaknya hiburan dan ucapan terima kasih. Intinya cuma satu komen dari si bos "situ ikhlas ga sih kerja sibuk dibanding orang lain?" Jleb banget. Untung aja bosnya ga saklek dan ngebungkus kalimatnya jadi terdengar lebih apik. Walau sebetulnya sindiran itu lebih nusuk dibanding kata frontal.


"Kamu enak. Ga ngalamin kan AC rusak dan kita kaya sauna? Sekalinya ganti, pake kipas angin yang berisiknya bikin pecah konsentrasi"
"Dulu saya pelatihan nginepnya di penginapan biasa, boro-boro deh ada acara rekreasi. Ada doorprise aja udah bersyukur."


Gitu deh. Membanding-bandingkan fasilitas yang didapat pegawai baru dengan apa yang dia dapat pada masanya. Helloowww, kalau mau ditelisik. Harusnya bersyukur lah. Berarti perusahaan tempat situ numpang hidup itu memikirkan kesejahteraan dan kenyamanan pegawainya.
Nyuruh orang lain bersyukur itu ga perlu jadi bikin diri sendiri malah kufur nikmat.

Jadi gitu ya. Coba berkaca diri. Sudah seberapa ikhlas dengan apa yang kita lakukan di tempat kerja. Ikhlas itu tolak ukurnya susah. Diem dan ga cerita sama orang lain tentang kebaikan diri tapi merasa diri sudah lebih baik dari orang lain? Itu sombong juga ga sih? Hehehe.

Merasa lelah itu wajar. Manusiawi ko. Tapi rasanya ga perlu juga jadi menyalahkan orang lain yang terlihat 'lebih santai' karena bisa aja dia hanya pintar menyembunyikan kerepotannya. Karena setiap pekerjaan itu amanah, maka belajar ikhlas menerima amanah.
Katanya amanah itu tidak akan jatuh ke tangan yang salah. Entah karena kita memang dianggap mampu melakukan, atau justru lewat amanah kita jadi belajar.
Thursday, 13 July 2017

Perihal Memperbaiki Diri

“Setiap anak yang lahir dilahirkan di atas fitrah, maka kedua orang tuanya lah yang menjadikannya Yahudi, Majusi, atau Nasrani.”

Itu kutipan hadits yang saya sendiri lupa siapa yang meriwayatkannya. Hehe. Tulisan macam apa.

Tapi ada beberapa hal menarik yang akhirnya ingin saya bahas tentang hadits itu dan berkaitan dengan sesuatu yang sedang hits bin kekinian yang alhamdulillah sifatnya baik.

Manusia itu dilahirkan dalam keadaan fitrah, bersih, baik. Dan beruntung rasanya bagi manusia yang dilahirkan dalam keluarga yang baik, meski tidak menjamin akan mati dalam kondisi baik pula.

Lingkungan. Iya. Pengaruhnya besar.

Lantas apa manusia yang sempat tidak baik tidak memiliki kesempatan untuk memperbaiki diri, hijrah, atau apa itu namanya. Seneng sih ketika banyak orang beramai-ramai mengkampanyekan ini. Penghafal qur'an sekarang ga kalah pamor sama penyanyi papan atas. Onlineshop gamis syari mudah ditemui dibanding yang jualan baju kurang bahan dan jahitan.

Sempet terpikir tentang .... esensi hijrah itu apa?

Saya sendiri bukan orang yang menggaung-gaungkan kata itu dengan selalu menulis dalam hashtag postingan medsos.
Kenapa?

Apa artinya saya tidak berkeinginan memperbaiki diri?

Kembali pada fitrah manusia, apa seorang maling tidak ingin punya pekerjaan yang lebih baik dan lebih mulia?

Beberapa orang, seperti saya, alhamdulillah mendapat lingkungan yang baik dengan teman-teman yang selalu mengingatkan dalam kebaikan. Sementara saya sendiri? Saya justru malu. Seolah saya menjadi duri dalam daging yang terlihat baik dari luar lalu dalamnya? Allah yang telah menutupi aib setiap hambanya pasti lebih tahu.

Tentang hijrah dan tektekbengek tentang memperbaiki diri yang sudah jadi fitrah manusia itu juga jadi banyak penyebabnya.

Beberapa orang mencoba hijrah karena terbawa kawan. Ada juga yang memang mendapat pencerahan sendiri karena pengalaman baik maupun buruk. Meski ada juga niat terselubung yang menurut saya jadi 'rada kurang pas' ... katanya supaya jodohnya baik. Kalau saya mau sewot "helloowww pernah denger ungkapan orang baik untuk orang baik ga? Terus menurut situ Allah menilai baik itu dari sisi mananya? Dari taubat yang baru sekejap terus langsung dapat bonus?"

Meski sebetulnya sah-sah saja dan banyak orang yang baru saja berhijrah lalu dapat jodoh orang yang kapasitas baiknya jauh di atas dia. Meski saya belum sempat tanya apa waktu dia berniat hijrah lillahitaala atau karena ... ya sudah lah.

Perjuangan untuk jadi baik juga memang tak mulus. Belum lagi tentang orang yang merasa sinis dan nyinyir dengan perubahan diri. Apalagi bagi sebagian orang yang pernah merasa disakiti.

Rasanya susah mempercayai kalo orang yang dulu bermaksiat bersama, kini malah jadi sok bijak dan full nasihat.

Rasanya tak perlu mengurusi orang macam ini. Mereka juga tak akan kebagian pahala dari perubahan diri. Soalnya saya pernah mengalaminya sih. Hahaha. Karena sakit hati, semua kebaikan yang ada dalam dirinya jadi tertutup kabut kebencian. Cieee. Jadi tidak bisa objektif dalam menilai.

Tapi sebetulnya kalau dipikir merugi juga. Memelihara benci hanya akan meuai penyakit hati. Karena ternyata hanya diri kita yang menilai begitu. Sementara yang dibenci tetap bahagia dengan kehidupannya dan sama sekali tidak meraa terusik. Orang lain juga tidak jadi ikut membenci.

Jadiiii, yang sedang hijrah istiqomah aja lahhh. Tidak perlu repot memikirkan penilaian orang. Karena penilaian yang paling benar itu hanya dari Allah. Kan Dia yang lebih tahu niat dan usaha kita.
Yang belum (macam si aku)?

Sok atuh segera dijemput yang namanya hidayahnya itu. Jangan sampai lebih cepat dijemput maut. Dan yang pasti mah ... jangan nyinyir sama orang yang lagi jadi baik atau belum nemu jalan buat baik. Saling mendoakan dalam kebaikan aja. Biar Malaikat juga mendoakan yang baik.